WAJIB MANDI KETIKA MEMASUKKAN ZAKAR KEDALAM KEMALUAN ORANG MATI DALAM MADZHAB SYAFI'I
√ Seandainya memasukkan penis kedalam kemaluan perempuan yang sudah meninggal, maka wajib mandi karena kemaluan perempuan yang sudah meninggal, maka menyerupainya dengan kemaluan perempuan yang masih hidup dan tidak diwajibkan dengannya untuk memberi mas kawin, jika keadaan orang tersebut wathi' Syubhat dan tidak wajib diberi hukuman sebagaimana penjelasan yang akan datang dan telah merusak perbuatan ibadah dengan sebab menyetubuhi Mayat dan wajib membayar Kaffarat dalam keadaan puasa dan Hajji
√ Apakah wajib mengulangi mandinya Mayat tersebut yaitu bahwa keadaan mengulang mandinya Mayat, maka di dalamnya ada dua perbedaan pendapat antara Ash-Hab Syafi'iyyah dan dua pendapat itu telah Masyhur dan Ashoh di sisi Jumhur Ulama' adalah
Pertama : tidak wajib mengulangi mandinya Mayat, karena telah hilang yang dibebankan kepada Mayat
Kedua : Bahwa kewajiban memandikan Mayat tersebut untuk membersihkan dan memuliakan Mayat. Sedangkan pendapat Imam Ar-Ruyaniy yang mengatakan Shohih bahwa wajib mengulanginya mandi untuk Mayat tidak dapat di jadikan sandaran hukum. Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama
Refrensi :
فلو أولج في فرج ميتة وجب الغسل ولم يجب المهر
Kitab Al-Hawi Al-Kabir Juz 1 Halaman 212
فإن أولج في فرج امرأة ميتة وجب عليه الغسل لأنه فرج آدمية فأشبه فرج الحية
Kitab Al-Muhadzdzab Juz 1 Halaman 61
﴿ العاشرة ﴾ إذا وطئ امرأة ميتة فقد ذكرنا أنه يلزمه الغسل٬ وهل يجب إعادة غسل الميتة إن كانت غسلت فيه وجهان مشهوران٬ أصحهما عند الجمهور لا يجب لعدم التكليف وإنما يجب غسل الميت تنظيفا وإكراما وشذ الروياني فصحح وجوب إعادته. والصواب الأول
Kitab Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab Juz 3 Halaman 70
ولا يعاد غسل الميت إذا أولج فيه أو استولج ذكره لسقوط تكليفه كالبهيمة، وإنما وجب غسله بالموت تنظيفا وإكراما له
Kitab Nihayatul Muhtaj Ilaa Syarhil Minhaj Juz 1 Halaman 213
Wallahu A'lam Bish-Showab